Kamis, 12 November 2009

riwayat hidup

nama : hasrayanti
tanggal lahir : 25 04 1991
alamat : takalar
status : mahasiswi
nama ayah : dahlan
nama ibu ; hasna
anak pertama dari dua bersaudara,perna menganyam pendidikan di sd, inpres rajaya.
smp 3 takalar
dan sma 1 takalar.

keamanan pangan

Pangan yang aman adalah pangan yang tidak mengandung bahaya fisik, kimia, dan bahaya biologis/mikrobiologis. Bahaya fisik mencakup kayu, batu, logam, rambut, dan kuku yang mungkin berasal dari bahan baku yang tercemar, peralatan yang aus aatau dari pekerja pengolah makanan. Meskipun tidak selalu menyebabkan penyakit atau gangguan kesehatan, bahaya fisik dapat dapat menjadi sumber pembawa mikroorganisme patogen dan dapat mengganggu nilai estetika dari makanan yang disajikan.

Bahaya kimia disebabkan oleh adanya bahan kimia yang dapat menyebabkan intoksikasi. Bahan kimia tersebut mencakup toksin dari kapang/jamur (kelompok mikotoksin), logam berat (timbal/Pb, raksa/Hg) yang dapat berasal dari cemaran industri, residu pestisida, hormon, dan antibiotik.

Bahaya biologis/mikrobiologis mencakup virus, bakteri patogen dan parasit (protozoa dan cacing) yang dapat tumbuh dalam bahan pangan dan menyebabkan infeksi pada manusia. Beberapa bakteri patogen juga dapat menghasilkan toksin dalam bahan pangan dan toksin yang terkonsumsi dapat menyebabkan intoksikasi. Deteksi virus maupun protozoa dalam bahan pangan belum banyak diteliti belum banyak diteliti, akan tetapi ada dugaan bahwa virus hepatitis A dan protozoa Entamoeba histolytica banyak mencemari air. Cacing diketahui juga banyak terdapat pada hsil ternak (misalnya Fasciola hepatica sejenis cacing daun pada sapi) dan dapat menginfeksi manusia yang mengkonsumsi daging atau hati sapi yang tidak dimasak dengan baik.

Rendahnya tingkat keamanan pangan disebabkan oleh beberapa faktor seperti; (1) mutu bahan yang rendah oleh cemaran biologis/mikrobiologis, kimia, dan fisik, (2) teknologi pengolahan dan penanganan yang rendah, (3) penerapan sanitasi yng belum memadai, (4) mutu air yang rendah, (5) sistem penanganan limbah yang belum memadai, dan (6) mutu sumberdaya manusia (SDM) pekerja pengolah makanan yang belum memadai.

tren makanan sehat

In 2007, health and wellness will still rank among the top consumer concerns. More specifically, consumers will look to functional foods and beverages to aid in areas such as weight management, heart health, anti-aging/cosmeceuticals, immunity, and digestive health. Because of this, the following ingredients, due to their reported benefits and innovative food science, will find increased presence in healthful foods and beverages:

  • Slow digesting carbohydrates for their role in weight management.
  • Omega-3 fatty acids for heart health and anti-aging.
  • Probiotics for immunity and digestive health.
  • Green tea for its role in weight management, immunity and cosmeceuticals.
  • Cinnamon for its role in blood sugar control.
  • Peptides for heart health, immunity, and weight management.
  • Whole grains for heart health, weight control, immunity, and digestive health.
  • Acai for its overall antioxidant properties and anti-aging and immunity.
  • Fiber for its role in weight management, heart health, immunity and digestive health.

pentingnya kemasan pangan

aat pulang mudik dari Bogor, seperti biasa saya selalu menyempatkan membeli oleh-oleh/buah tangan atau di Jepang dikenal dengan nama omiyage. Oleh-oleh yang saya bawa biasanya adalah makanan-makanan tradisional khas Bogor dan sekitarnya. Teman-teman di lab biasanya senang sekali dibawakan oleh-oleh tersebut. Berbagai komentar selalu mereka layangkan seputar nama makanan dan bahan-bahannya, rasa, penampilan, harga, siapa yang memproduksi, dll.

Hal yang sering mereka keluhkan adalah soal penampilan. Menurut mereka, soal rasa sebetulnya tidak masalah dan bersifat relatif, artinya bisa enak atau tidak enak, walau secara umum mereka menilai makanan yg saya bawa selalu enak :-). Kemasan produk olahan kita masih kalah jauh jika dibandingkan dengan kemasan-kemasan produk olahan yang ada di Jepang. Kalah dari aspek penampilan (kombinasi warna yang dipilih), jenis bahan kemasan, dan label. Tampilan kemasan produk makanan di Jepang merupakan daya tarik tersendiri sehingga meningkatkan rasa ingin tahu dan mencicipi makanannya.

Baru kali ini (pulang mudik terakhir) saya mendapatkan tanggapan berbeda dari teman-teman. Omiyage yang saya bawa sekarang lebih baik kemasannya. Makanan yang saya bawa adalah keripik singkong produksi salah satu industri rumah tangga (IRT) di Bogor (lihat gambar). Dari segi rasa OK kata mereka dan penampilan-pun juga OK.

Ada sedikit kebanggaan juga akhirnya :-), setelah beberapa kali membawa oleh-oleh yang “ala kadarnya” dari aspek kemasan. Walaupun secara umum kendala yg dimiliki oleh IRT adalah dalam hal kemasan. Setidaknya keripik yang diproduksi oleh IRT ini, sedikit banyak memberikan bukti jika memang dengan memperbaki kualitas kemasan dapat meningkatkan pangsa pasar, mengapa aspek kemasan tidak mendapat perhatian serius semua pihak. Dalam salah satu diskusi dengan teman-teman Indonesia yg ada di PPIS terungkap adanya keluhan-keluhan yang sama dengan rekan-rekan di lab saya tentang mutu kemasan produk-produk olahan makanan tradisional kita.

Kombinasi warna (hijau, kuning, dan merah) paling tidak dapat memberikan kesan yang menarik pada keripik ini. Label kemasan juga telah tersedia, meliputi informasi gizi, bahan pembuat keripik, tanggal kadaluarsa, berat bersih, barcode, dan informasi kehalalan (yang ditunjukkan dengan label halal).

Tentang kehalalan menarik untuk dicermati, karena hal ini juga yang menjadi pertanyaan rekan-rekan saya di lab. Sedikit saya jelaskan apa itu label halal dan sitem sertifikasi di Indonesia akhirnya rekan-rekan saya dapat memaklumi adanya label halal yang ada di kemasan tersebut. Walau saya sendiri juga sempat berpikir “wah hebat juga nich IRT” pikir saya. Sepertinya manajemen IRT ini sudah menyadari aspek kehalalan dengan mencantumkan label halal (lihat gambar) yang menjadi prioritas utama pada produk-produk dengan konsumen sebagian besar adalah muslim.

Sedikit yang membuat agak menggelitik saya dan juga beberapa rekan di lab. Pencantuman tulisan “no cholesterol” (lihat gambar), padahal sebetulnya memang tidak ada kolesterol pada produk ini. Bahan baku utamanya juga adalah nabati (singkong), bahan-bahan tambahan juga semuanya berbahan baku nabati. Minyak yang digunakan untuk menggoreng juga berasal dari minyak nabati, jadi mengapa tulisan “no cholesterol” ada pada kemasan tersebut. Seharusnya produsen mengetahui, bahwa kolesterol adalah berasal dari hewani bukan dari nabati, sehingga tidak ada alasan klaim produk mereka “no cholesterol”, karena memang kenyataannya memang demikian.

Hal ini perlu kita dicermati, karena semestinya tetap mengacu kepada prinsip "benar dan tidak menyesatkan". Benar saja tidak cukup, tapi harus juga tidak menyesatkan. Pihak pemasaran sudah semestinya tidak sekedar "menjual sesuatu yang tidak/sulit dijual", tetapi harus mulai bergeser ke science-based marketing. Memberikan pelajaran atau penerangan kepada masyarakat lewat label kemasan/iklan/reklame yang ditampilkan merupakan suatu keharusan yang perlu ditekankan pada produsen.

Akhirnya industri pangan perlu menyadari dan mengambil peran penting dalam membentuk atau membina pola dan kebiasaan konsumsi yang baik bagi masyarakat. Peran strategis industri pangan ini dimulai dari jenis dan kualitas produk yang ditawarkan sampai kepada cara penawaran atau promosinya. Perlu ditekankan bahwa melalui kegiatan promosi yang didukung oleh dana yang besar, industri pangan mempunyai kekuatan yang besar pula untuk mempengaruhi (secara positif atau negatif) status gizi dan kesehatan masyarakat umum.